Berapa IQ Stephen Hawking?

Younger generations are more intelligent than the previous ones.
Aaron Rodilla
Ditulis oleh:
Penilai:
Diterbitkan:
8 Mei 2026
IQ Stephen Hawking
Kecerdasan Stephen Hawking
Perkiraan IQ Hawking
Clock icon for article's reading time
10
min. membaca

Internet suka angka yang rapi. Sayangnya, pikiran Stephen Hawking—untuk internet—tidak rapi.

Ketik nama dan “IQ” di kolom pencarian, dan kamu akan cepat menemukan klaim yang rapi banget dan janggal: 160. Terlalu dramatis. Terlalu mudah diklik. Dan hampir pasti tidak didukung. Sebuah artikel Washington Post tahun 2004 mengingat kembali obrolan terkenal Larry King, saat Hawking ditanya IQ-nya dan menjawab, “Aku tidak tahu.” Obituari Dennis Overbye tahun 2018 di The New York Times juga kembali ke poin yang sama: Hawking sendiri tampaknya tidak tertarik menjadikan kecerdasannya semacam papan skor.

Itu tidak berarti pertanyaannya konyol. Hanya saja, kita harus menjawabnya dengan cara dewasa, bukan seperti penjual konten ala listicle yang berkutat di keyboard dan bermimpi. Jadi, daripada pura-pura ada hasil tes rahasia yang disimpan di laci di Cambridge, kita perlu melakukan sesuatu yang lebih menarik: susun “bukti” dari kisah hidupnya.

Dan Hawking memberi kita contoh yang menarik. Dia bukan prodigy anak klasik versi film tentang jenius. Dia juga tidak melesat di sekolah sambil mengumpulkan nilai sempurna dan membuat guru-guru gentar sejak usia sembilan tahun. Bahkan, salah satu titik awal terbaik justru hampir berlawanan.

Awalnya, dia tidak terlihat seperti calon jenius

Michael Church menulis di The Independent bahwa “dahulu kala, Stephen Hawking hanyalah murid sekolah biasa.” Kalimat itu penting karena membongkar mitos yang kita suka: bahwa jenius sejati selalu datang sambil memakai papan neon raksasa. Hawking tidak.

Di St Albans School, dia ditempatkan di jalur akademik terbaik—ini sudah menunjukkan kalau dia punya kemampuan yang kuat. Tapi Church juga menggambarkannya sebagai tipe murid yang bisa terlihat “terlepas”, membungkuk di belakang, menatap keluar jendela, dan tidak selalu membuat guru terkesan dengan cara yang biasa. Bahkan, ada laporan seorang guru menyebutnya “kurang cerdas” setelah dia gagal menjawab sebuah pertanyaan. Bayangin baru tahu belakangan kalau pandangan itu datang dari kamu terhadap Stephen Hawking. Aku pasti pindah negara.

Apa yang harus kamu lakukan dengan bukti seperti itu? Kamu nggak boleh mengabaikannya. Tapi kamu juga nggak boleh membacanya berlebihan. Siswa yang terlihat biasa di kelas tetap bisa bekerja jauh lebih baik daripada kelasnya kalau dia bosan, pikirannya lagi teralihkan, atau memang tidak tertarik melakukan tes kecerdasan saat disuruh. Hidup Hawking di kemudian hari menunjukkan hal itu. Menurut Church, teman-teman sekelasnya ingat dia membaca banyak di luar sekolah dan mengumpulkan pengetahuan secara informal. Pola ini penting karena orang ber-IQ tinggi sering menunjukkan bukan cuma kemampuan, tapi juga rasa ingin tahu yang dipimpin oleh diri sendiri. Mereka bisa menyimpang dari silabus dan, tentu saja bikin repot semua orang yang mencoba menilai mereka, kadang malah lebih baik di luar sana daripada di dalamnya.

Jadi masa sekolah tidak berteriak “jenius bersertifikat”. Tapi justru menunjukkan sesuatu yang lebih halus—dan, dalam beberapa hal, lebih meyakinkan: cara berpikir yang selektif, digerakkan dari dalam, dan sedikit alergi terhadap penampilan rutin.

Oxford mengonfirmasi kemampuannya, meski Hawking nyaris tidak memainkan permainannya

Kalau sekolah meninggalkan kasus itu setengah terbuka, Oxford mendorongnya maju. Hawking diterima di University College, Oxford, untuk belajar fisika—dan sampai ke sana saja sudah berarti dia bekerja di level yang sangat tinggi. Tapi bagian yang paling mengungkap adalah apa yang dia lakukan begitu tiba.

Menurut memoar Hawking sendiri, My Brief History, dia “kurang motivasi dan hanya mengerjakan hal-hal minimal.” Kalimat itu emas untuk siapa pun yang ingin memahami cara berpikirnya. Dari sana kita bisa melihat dua hal sekaligus. Pertama, dia bukan mesin akademik yang kerja tanpa henti dan super disiplin. Kedua, dia cukup efisien secara kognitif untuk tetap bertahan di salah satu lingkungan akademik tersulit di Inggris tanpa harus bersikap seperti biarawan yang hanya revisi.

Di sinilah obrolan soal IQ jadi makin menarik. IQ—meski tidak sempurna—cenderung punya hubungan yang cukup kuat dengan penalaran abstrak, deteksi pola, dan belajar cepat. Rekor Hawking di Oxford mengarah tepat ke kemampuan-kemampuan itu. Kitty Ferguson, dalam Stephen Hawking: His Life and Work, menekankan bahwa dia tidak pernah jadi siswa yang benar-benar rapi dan serba konsisten. Nilainya di berbagai mata pelajaran tidak merata, dan dia sering lebih percaya intuisi daripada persiapan yang disiplin. Kedengarannya berisiko, karena memang berisiko. Tapi ini juga mengarah ke sesuatu yang kita lihat pada pemikir yang sangat berbakat: kadang mereka terlihat biasa saja—bahkan nyaris tidak meyakinkan—sampai akhirnya mereka melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh siswa biasa.

Jadi, biar jelas: ini bukan berarti setiap siswa yang malas diam-diam adalah Stephen Hawking. Ada orang yang jenius karena “bosan”; tapi banyak juga yang memang sekadar bosan. Namun dalam kasus Hawking, kombinasi dari masuk lewat jalur bergengsi, usaha yang minim terlihat, dan hasil kelas dunia di kemudian hari mengindikasikan kalau dia bekerja jauh di atas kemampuan akademik rata-rata.

Lalu hidup jadi sangat serius, dan pikirannya semakin fokus.

Ada satu titik dalam kisah Hawking ketika artikelnya tak lagi sekadar membahas bakat, tapi berubah jadi tentang kekuatan kognitif saat tertekan. Di usia awal dua puluhan, setelah mulai studi pascasarjana di Cambridge, ia didiagnosis ALS, penyakit neuron motorik yang perlahan akan melumpuhkannya.

Jenis diagnosis itu bisa menghancurkan rencana hampir siapa pun. Untuk sementara, itu hampir menghancurkan rencananya juga. Tapi menurut My Brief History, penyakitnya berkembang lebih lambat dari yang diperkirakan, jadi dia bisa tetap melanjutkan risetnya dan bahkan merevisi tesisnya. Kalimat itu gampang dibaca cepat—jangan. Dia menghadapi penyakit neurologis yang menghancurkan, tapi tetap mengerjakan fisika teoretis kelas atas. Ini bukan cuma soal kecerdasan. Ini tentang fokus, ketangguhan, dan kemampuan menjaga masalah abstrak tetap hidup di pikiran, sementara hidup melakukan yang terburuk di sekelilingmu.

Memoar Jane Hawking menggambarkan dia sebagai sosok yang suka bercanda, jahil, dan sangat tertarik pada pertanyaan besar—bukan tugas-tugas biasa. Ternyata kecocokan itu mendadak jadi makin penting. Fisika teoretis adalah salah satu dari sedikit aktivitas manusia di mana kondisi tubuh yang menurun tidak harus berarti pikiran ikut mundur. Dengan cara yang aneh dan menyedihkan, bidang Hawking justru pas dengan tipe pemikir yang sudah ada dalam dirinya: sangat konseptual, imajinatif secara visual, dan lebih tertarik pada prinsip dasar daripada alat-alat fisik.

Ini juga tempat kamu mulai melihat kenapa tes IQ standar hanya menangkap sebagian dari dirinya. Tes biasa itu seperti potret sesaat. Kisah Hawking menunjukkan penalaran abstrak yang konsisten meski dalam batasan yang ekstrem. Itu jenis yang berbeda (dan jauh lebih menantang).

Bukti sesungguhnya ada pada terobosan-terobosan

Sampai titik ini, kamu sudah tahu Hawking memang sangat cerdas. Tapi “sangat cerdas” itu kategori yang ramai. Pertanyaannya: apakah karyanya mengangkatnya ke ruang yang langka—di mana kata seperti “jenius” tidak lagi terdengar memalukan, tapi terasa tepat dan akurat.

Ya. Itu memang begitu.

Pertimbangkan radiasi Hawking. Pada tahun 1974, ia mengusulkan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, tapi memancarkan radiasi karena efek kuantum di dekat cakrawala peristiwa. Kalau kedengarannya seperti kalimat yang orang-orang pura-pura mengerti saat makan malam, ya, itu wajar. Tapi bagian pentingnya begini: Hawking menghubungkan ide dari relativitas umum, teori kuantum, dan termodinamika dengan cara yang mengubah bidangnya. John Preskill kemudian menulis di Caltech Magazine bahwa Hawking mengubah lubang hitam dari objek klasik yang sederhana menjadi sesuatu yang sangat terkait dengan informasi kuantum. Ini bukan sekadar kerja keras. Ini ketajaman berpikir yang menembus konsep.

Biografi Ferguson mengikuti jejak kenaikannya: karya terobosan saat usianya masih awal 20-an, lalu pada 32 ia sudah menjadi Profesor Matematika Lucasian di Cambridge—di kursi yang dulu pernah ditempati Newton. Kamu tidak sampai ke sana lewat sensasi media atau satu kebetulan pencerahan. Kamu sampai lewat kebiasaan melihat struktur dalam kenyataan yang orang-orang brilian lain justru lewatkan.

Perhatikan juga jenis kecerdasan spesifik yang ini tunjukkan. Bukan kecerdasan remeh-temeh. Bukan kecerdasan hasil belajar strategi tes. Bukan “bisa menyelesaikan 80 soal latihan aljabar sebelum makan siang”. Kekuatan Hawking tampaknya adalah kemampuannya menampung ide-ide yang saling bertentangan di kepalanya, merenungkan kontradiksinya, lalu akhirnya menemukan kerangka yang lebih dalam sampai semuanya bisa “pas”. Cara berpikir seperti itulah yang coba didekati oleh tes IQ dengan teka-teki abstrak—hanya saja di kasusnya, teka-tekinya adalah semesta. Bedanya sedikit.

Bagaimana cara Hawking tampaknya berpikir

Bagian ini penting karena pencapaian saja bisa menyesatkan kita. Karier yang cemerlang tidak hanya mencerminkan kecerdasan, tapi juga kesempatan, timing, mentor, dan kerja tanpa henti. Hawking punya semuanya itu. Tapi, rekan-rekannya terus menyoroti ada sesuatu yang khas tentang cara pikirnya bekerja.

Di Black Holes and Time Warps, Kip Thorne menggambarkan Hawking sebagai pemikir yang bekerja secara geometris dan visual—seolah-olah dia bisa “melintasi” ruangwaktu di kepalanya, lalu baru kemudian menerjemahkan intuisi itu ke dalam matematika. Ini petunjuk besar. Penalaran visual-spasial memang bagian dari kecerdasan, tapi dalam fisika teoretis, itu bisa jadi superpower.

Brian Greene kemudian merangkum masalah ini dengan apik di Scientific American: kecemerlangan Hawking adalah “bukan sesuatu yang bisa diringkas jadi sebuah angka”; melainkan keberanian dan koherensi gagasannya. Aku suka itu karena menghindari jebakan “ketepatan palsu”, tapi tetap mengakui yang jelas. Hawking bukan cuma pintar dalam arti yang luas dan sopan. Dia punya orisinalitas konseptual yang langka.

Di sini ada koreksi lain yang juga berguna. Menurut laporan New Scientist tahun 2019 oleh Marina Antonini, pemeriksaan otak Hawking setelah meninggal tidak menemukan anatomi “jenius” yang ajaib. Struktur besarnya terlihat normal. Artinya, tidak ada perangkat alien rahasia yang bersembunyi di dalamnya. Kejeniusan dia tampaknya berpijak pada pola pikir, bukan bagian otak yang dibuat-buat lebih besar dari kartun. (Sains memang begitu—kasar juga. Selalu merusak mitos kita.)

Itu juga memengaruhi perkiraan IQ. Kamu tidak mencari bukti tentang kesaktian manusia super. Kamu mencari tanda-tanda penalaran luar biasa, kemampuan belajar, sintesis, dan kreativitas. Hawking memberi kita tanda-tanda itu dalam jumlah besar.

Dia bukan cuma seorang teoretikus. Dia penerjemah kerumitan.

Salah satu kesalahan paling mudah di artikel seperti ini adalah menganggap tulisan populer itu sekadar “pengisi” dibandingkan karya ilmiah “sebenarnya”. Bukan di sini. Buku A Brief History of Time sendiri sudah bukti jangkauan intelektual yang serius.

Pikirkan apa yang dituntut dari buku itu. Hawking harus menjelaskan waktu, lubang hitam, Big Bang, dan nasib alam semesta untuk orang awam tanpa mereduksi idenya jadi omong kosong. Itu butuh lebih dari sekadar pengetahuan. Anda perlu kemampuan membangun model mental, ketelitian berbahasa, peka pada audiens, dan keberanian untuk menyusun ulang materi yang rumit menjadi lapisan yang jelas. Dalam istilah IQ, ini menunjukkan kecerdasan verbal dan kelenturan kognitif yang luar biasa: ia bisa memahami sebuah gagasan sampai kedalaman level ahli, lalu membangunnya lagi agar mudah dipahami pembaca biasa—tanpa merusaknya.

Banyak peneliti hebat sama sekali tidak bisa melakukan ini. Hawking bisa. Obituari Overbye juga mengingatkan pembaca bahwa citra publik Hawking mencakup kecerdasan cepat dan timing komedi—mulai dari wawancara sampai penampilan singkat di televisi. Kedengarannya sepele, tapi tidak. Humor biasanya bergantung pada kemampuan mengenali pola dengan cepat dan memberi kejutan. Hawking bukan mesin yang mengeluarkan persamaan. Ia cukup lincah secara mental untuk berpindah antara fisika mutakhir dan komunikasi publik tanpa kehilangan kepribadiannya.

Dan itu membawa kita kembali ke awal. Saat dia berkata, “Aku tidak tahu,” sebagai jawaban atas pertanyaan IQ, aku ragu maksudnya benar-benar tidak pernah sama sekali berjumpa dengan konsepnya. Dia sedang mengorek asumsi dasarnya. Wajar. Tapi, kisah hidupnya tetap memberi cukup bukti untuk perkiraan yang masuk akal.

Perkiraan IQ kami untuk Stephen Hawking

Jadi, sekarang kita harus berada di mana?

Ternyata bukan 160. Faktanya, tidak ada bukti yang kredibel untuk angka itu, dan mengulanginya seolah sudah terverifikasi cuma numerologi dengan branding yang lebih keren.

Tapi itu juga tidak membuat kita mengangkat bahu dan berkata, “Siapa yang tahu?” Kita tahu banyak. Kita tahu Hawking berhasil masuk Oxford dan Cambridge sambil mengerjakan hal-hal yang lebih tidak rutin daripada banyak rekan lainnya. Kita tahu ia menghasilkan terobosan orisinal yang memaksa fisikawan elite untuk menata ulang cara pandang tentang lubang hitam, informasi, dan asal-usul alam semesta. Kita juga tahu rekan-rekannya menggambarkan bakatnya dengan kedalaman konsep, penalaran berbasis visual, dan pertanyaan yang mampu mengguncang asumsi. Kita tahu ia menyampaikan gagasan yang sangat sulit kepada jutaan pembaca. Dan kita tahu ia terus melakukan semua itu saat hidup dengan kondisi fisik yang kemungkinan besar akan menggagalkan hampir siapa pun.

Gabungkan semuanya, dan yang kamu lihat bukan sekadar kecerdasan tinggi. Yang kamu lihat adalah kemampuan intelektual yang sangat langka—terutama dalam penalaran abstrak dan kreativitas konseptual.

Perkiraan kami: Stephen Hawking kemungkinan punya IQ sekitar 150.

Itu akan menempatkannya di sekitar persentil ke-99,96, dalam rentang luar biasa berbakat.

Bisa saja sedikit lebih rendah? Mungkin. Bisa saja sedikit lebih tinggi? Juga mungkin. Tapi 150 terasa seperti titik tengah yang pas: cukup tinggi untuk menyamai pencapaiannya yang luar biasa, dan cukup tertahan agar tidak berubah jadi penyembahan angka. Itu juga cocok dengan pola aneh yang sudah kita lihat sejak awal: anak itu, yang dulu oleh seorang guru pernah dianggap “kurang cerdas”; mahasiswa Oxford yang mengaku dia hanya mengerjakan “pekerjaan minimal”; dan sang fisikawan yang tetap berhasil mengubah kosmologi modern.

Dan mungkin itulah kesimpulan paling ala Hawking yang bisa kamu capai. Pikirannya jelas luar biasa. Tapi bukti akhirnya tidak akan pernah berupa nilai tes. Buktinya adalah ia menatap lubang hitam—benda yang hampir tak bisa kita bayangkan—dan entah bagaimana bisa “menarik” cahaya keluar darinya.

Kami harap Anda menikmati artikel kami. Jika Anda mau, Anda bisa mengikuti tes IQ bersama kami di sini. Atau mungkin Anda ingin belajar lebih banyak, jadi kami tinggalkan buku di bawah ini.

POIN PENTING
Book icon emoji style for Key Takeaways or highlights
  • Klaim terkenal bahwa Stephen Hawking punya IQ 160 tidak didukung bukti yang kredibel.
  • Hawking bukanlah anak ajaib kelas yang langsung terlihat, tapi masa sekolahnya sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang terarah dan kemampuan belajar mandiri yang kuat.
  • Di Oxford, dia mengaku melakukan “kerja minimal”, yang menunjukkan efisiensi kognitif yang tidak biasa—bukan sekadar rutinitas akademik yang membosankan.
  • Bukti terbesarnya tentang kecerdasan bukanlah nilai tes, tapi kemampuannya menyatukan ide-ide raksasa—teori kuantum, gravitasi, lubang hitam, dan waktu.
  • Kami memperkirakan IQ Hawking sekitar 150, menempatkannya di persentil ke-99,96—dan di rentang luar biasa untuk orang yang sangat berbakat.
APAKAH KAMU MENIKMATINYA?
Bagikan pengalaman membaca Anda
References symbol emoji
Periksa Sumber Artikel Kami
Dropdown icon
Jika Anda bersenang-senang, kami masih punya banyak lagi!

Artikel Terkait